COMMUNITY ACCESS POINT (CAP) SEBAGAI SARANA MEMPERKECIL DEVIDE DIGITAL

PENDAHULUAN

Republik Indonesia adalah negara berkembang yang dulunya sempat disebut Calon macan Asia. Tetapi krisis multidimensi yang terjadi pada tahun 1998, bersamaan dengan krisis yang juga menimpa negara-negara lain di kawasan regional membuat Indonesia menjadi terpuruk. Meskipun saat ini Indonesia sudah mulai bangkit dari keterpurukannya, namun apabila dibandingkan dengan negara lain di kawasan regional, laju pertumbuhan Indonesia relatif lebih lambat. Dari indikator human development index (HDI) untuk tahun 2004 yang diterbitkan oleh UNDP, Indonesia menduduki peringkat 111 dari 177 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang masuk dalam HDI tahun 2004. Bahkan, apabila dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, posisi Indonesia masih di bawah negara-negara lainnya. Singapura misalnya, menempati urutan ke-25, sedangkan Brunei menempai urutan ke-33. Malaysia sendiri menempati urutan ke-59, sedangkan Thailand dan Filipina masing-masing menempati urutan ke-76 dan 83. Indonesia hanya menang dari Vietnam sebagai sebuah negara yang baru saja membangun, yang menempati urutan satu tingkat di bawah Indonesia yaitu 112. Ini menunjukkan kualitas manusia Indonesia yang masih di bawah negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Sebagai negara anggota PBB, Indonesia terikat dengan beberapa keputusan/konvensi PBB, yang selanjutnya diratifikasi oleh DPR-RI. Salah satu hasil konvensi adalah bertajuk “Millenium Development Goals” (MDG), di mana mencantumkan target bahwa seluruh anggota PBB yang berjumlah 191 negara akan mencapai target MDG pada tahun 2015. MDG berisi:

o Mengurangi kemiskinan dan kelaparan

o Target bahwa semua orang telah memperoleh pendidikan dasar

o Memajukan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan

o Mengurangi tingkat kematian bayi

o Meningkatkan kesehatan ibu hamil

o Mengatasi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit-penyakit lainnya

o Menjamin kelestarian lingkungan

o Membangun kemitraan global untuk pengembangan

Tren dunia sejak tahun 1994 adalah mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi (infokom) untuk mempercepat proses-proses maupun memperlancar aktivitas-aktivitas yang tadinya dilakukan secara konvensional, menjadi dapat dilakukan secara elektronis. Lebih jauh lagi, teknologi infokom berfungsi sebagai enabler dalam hampir setiap lini produksi maupun setiap aspek kehidupan manusia, meskipun penggunaannya dalam derajat yang berbeda-beda. Untuk kalangan dunia usaha, teknologi infokom akan meningkatkan efisiensi produksi dan membantu meningkatkan produktivitas usaha. Untuk kalangan pemerintahan, teknologi infokom akan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, meningkatkan transparansi, dan menunjang pemerintahan yang demokratis. Sedangkan untuk masyarakat luas, teknologi infokom dapat meningkatkan kemampuan masyarakat, mempermudah akses informasi, mempermudah menerima layanan publik dan pendidikan, serta pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan meningkatkan daya saing bangsa. Apabila dihubungkan dengan usaha Indonesia untuk mencapai MDG, maka teknologi infokom sesungguhnya dapat menjadi enabler bagi tercapainya MDG tersebut di atas. Dengan teknologi infokom, dapat dilaksanakan program-program pemberdayaan masyarakat dan upaya-upaya untuk meningkatkan pembelajaran masyarakat tanpa terbatas ruang dan waktu.

COMMUNITY ACCES POINT

 

 

Community Acces Point (CAP) adalah sebuah pusat ataupun titik, di mana masyarakat yang berada di pedesaan dapat melakukan komunikasi, serta mengakses informasi melalui sarana telekomunikasi dan informasi yang berada di satu tempat. Karakteristik khas dari CAP adalah adanya sebuah ruangan fisik yang mempunyai akses ke sarana teknologi informasi dan komunikasi. CAP sendiri berkembang di banyak negara dengan nama yang berlainan. Antara lain adalah: Community Access Program (CAP), Canada; Cabinas, Peru; Multi Purpose Community Telecentre (MPC T), Senegal; Mamelodi Community Information Services (MACIS), Afrika Selatan; Balai Informasi masyarakat (Mastel), Indonesia; dan Warung Informasi Teknologi (Warintek), Indonesia. Semua itu intinya sama, yaitu bagaimana memberikan akses teknologi informasi dan komunikasi ke masyarakat pedesaan yang jauh dari jaringan telekomunikasi.

CAP secara umum memberikan beberapa layanan seperti tertera di bawah ini:

  • Akses ke telepon dan faksmili
  • Akses ke e-mail
  • Akses ke internet
  • Layanan informasi lainnya
  • Layanan yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat
  • Pendidikan keahlian yang sejalan dengan perlengkapan yang ada di CAP

MODEL COMMUNITY ACCESS POINT

Di seluruh dunia, saat ini terdapat berbagai macam jenis CAP yang diadopsi oleh masing-masing negara, sesuai dengan tujuan pembentukan CAP maupun kebutuhan masyarakat/komunitasnya. Model bisnis yang dipakai oleh negara lain pun bermacam-macam. Ada yang melibatkan pemerintah dan donor, ada yang melibatkan LSM, dan ada juga yang dibangun oleh komunitas khusus. Dari semua itu, ada yang sukses dan ada juga yang gagal. Dalam konteks Indonesia, perlu dicermati lebih jauh, model bisnis seperti apakah yang cocok dan berkelanjutan? Tentunya, mencari model bisnis yang cocok harus mengingat kembali tujuan dari pembentukan CAP dan memerlukan beberapa pertimbangan yang akan dibahas dalam pembahasan berikutnya. Model bisnis dipahami sebagai sistem yang memungkinkan perusahaan atau organisasi untuk berkembang dan mendapatkan uang secara berkesinambungan (Keval Desai, ONSET Ventures). Ada beberapa hal yang membuat model bisnis penting, yaitu: a) karena ia memberikan bahasa yang umum, b) memungkinkan adanya analogi, c) bertindak sebagai peta jalan, d) memungkinkan fokus pada pertumbuhan berkelanjutan dan e) mengisolasi masalah, serta sebagai f) titik transisi. Untuk membuat model bisnis, ada empat komponen yang harus hadir. Ke empatnya adalah: a) pasar dan pelanggan, b) produk dan layanan, c) saluran distribusi dan d) financial engine.

TUJUAN COMMUNITY ACCESS POINT

 

 

  • Pengentasan Kemiskinan

Melalui CAP, diharapkan dapat diperoleh pengetahuan dan peluang untuk meningkatkan usaha, dapat diperoleh pengetahuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan, serta dapat diperoleh informasi bagaimana melakukan pengolahan bahan-bahan makanan yang lebih baik dan bergizi. Peluang untuk memperoleh informasi ini memberi dampak tidak langsung, yaitu bahwa secara bertahap akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin, sehingga tingkat kemiskinan masyarakat dapat berkurang.

Memperkecil Digital Divide

Dengan dibangunnya CAP di seluruh Indonesia, diharapkan secara perlahan kesenjangan informasi antara daerah kota dan pedesaan dapat diatasi, sehingga seluruh masyarakat dapat memperoleh informasi yang sama secara tepat waktu dan akurat. Dengan demikian, seluruh masyarakat Indonesia diharapkan mempunyai peluang untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang sama, mempunyai peluang untuk memperoleh informasi yang sama dalam rangka meningkatkan usahanya, dan mempunyai peluang yang sama untuk meningkatkan kualitas hidupnya tanpa terhalang oleh jarak dan waktu, maupun terhalang oleh pihak lain.

  • Masyarakat Berbasiskan Pengetahuan

Melalui CAP, peluang untuk memperoleh materi belajar dan informasi pendidikan untuk seluruh subyek/mata pelajaran terbuka luas. Dengan demikian, tidak ada batasan waktu, tempat, dan umur untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Informasi-informasi tentang pengetahuan tradisional yang dibutuhkan masyarakat Indonesia pun mulai tersedia melalui program Warintek Digital Library. Sedangkan ilmu pengetahuan dengan khazanah yang lebih luas, diharapkan dapat diperoleh melalui internet, sepanjang jaringan aksesnya memadai, dan kontennya tersedia melalui situs-situs web di dunia maya.

Oleh karena itu, diharapkan seluruh masyarakat tanpa batasan umur dapat memanfaatkan CAP untuk memperkaya khazanah pengetahuan dirinya dan membiasakan diri untuk terus belajar sepanjang hidupnya (lifelong learning). Dengan terbentuknya masyarakat yang berbasiskan pengetahuan (knowledge based society), maka diharapkan daya saing bangsa akan meningkat dibandingkan bangsa-bangsa lain di kawasan regional. Tolok ukur yang patut diperhatikan di sini adalah Human Development Index (HDI). Indonesia harus mempunyai target untuk meningkatkan HDI menjadi posisi 100 dalam lima tahun.

 

KOMUNITAS (PASAR/PELANGGAN)

 

Sesungguhnya, CAP ini dapat didirikan di beragam lingkungan, baik lingkungan yang majemuk maupun yang heterogen. Namun, biasanya CAP pada awalnya akan berdiri berdasarkan adanya kebutuhan dari kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan karakteristik. Beberapa kelompok masyarakat yang teridentifikasi dan mempunyai potensi untuk berkembang dengan adanya CAP antara lain adalah:

  • PETANI

Target dari komunitas petani adalah pelaku pertanian, perkebunan, dan peternakan sendiri.

  • NELAYAN

Target dari komunitas nelayan adalah nelayan itu sendiri.

  • WANITA

Target dari komunitas wanita terdiri dari:

§ Ibu rumah tangga

§ Wanita lajang/remaja

§ Wanita pekerja

§ Wanita pengusaha

  • PELAJAR & MAHASISWA, terdiri dari:

§ Peserta pendidikan formal

§ Bukan peserta pendidikan formal

KESIMPULAN

Sebagaimana telah disampaikan di atas, bahwa infrastruktur telekomunikasi belum menjangkau daerah-daerah pedesaan atau pedalaman, maka untuk menyediakan infrastruktur tersebut adalah sudah menjadi kewajiban pemerintah. Namun, dalam rangka pembangunan masyarakat berbasis pengetahuan, diperlukan fasilitas tambahan dari sekedar telepon dan usaha tambahan untuk memasyarakatkan budaya membaca dan menulis, serta untuk mengenalkan pentingnya arti informasi. Oleh karenanya, pemerintah seharusnya mengalokasikan dana khusus untuk pembangunan dan pengembangan CAP, di luar dana penyediaan infrastruktur telekomunikasi untuk pedesaan. Memang, hasil dari penggunaan dana ini tidak akan terlihat langsung (direct effect), namun akan terlihat dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan melalui ”Human Development Index”, ”Country Competitiveness Index”, dan lain-lain.

Pemerintah Membuat Kebijakan Infrastruktur untuk Memperkecil Digital Divide

Sesuai dengan keinginan untuk membangun masyarakat Indonesia yang berbasis pengetahuan, maka pemerintah harus berkomitmen untuk membuat kebijakan yang bertujuan untuk memperkecil jurang kesenjangan informasi digital (digital divide), antara lain melalui CAP. Kebijakan tersebut dapat berupa komitmen penyediaan infrastruktur telekomunikasi (termasuk penggunaan frekuensi untuk pendidikan dan masyarakat), dan penyediaan infrastruktur informasi/konten.

Pemerintah Sebagai Pemimpin atau Pembuat Kebijakan untuk Mengajak BUMN atau Sektor Swasta dalam Membuat Community Development Project CAP

Pemerintah sebagai pemimpin atau pembuat kebijakan maka diharapkan dapat mengajak BUMN atau sector swasta untuk membuat Community Developman Project Community Access Point, sehingga tujuan dari CAP akan segera tercapai.

SUMBER BACAAN

 

 

 

http://aptel.depkominfo.go.id, Panduan Model Bisnis Community Access Point

 

2 Balasan ke COMMUNITY ACCESS POINT (CAP) SEBAGAI SARANA MEMPERKECIL DEVIDE DIGITAL

  1. iyandri mengatakan:

    wah terima kasih atas infonya, ini artikel yang sangat saya cari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: