Menghasilkan uang dengan cepat di internet

Februari 21, 2008

Internet merupakan ajang yang sangat bagus untuk mencari ilmu, mencari pengetahuan, mencari teman dan lain sebagainya. Termasuk juga mencari uang lewat internet. Lho kok bisa menghasilkan uang, bagaimana caranya? Caranya banyak sekali diantaranya:

  • membuat blog atau website kemudian di daftarkan ke www.google.adsense/com. nanti kita akan mendapat komisi dari google
  • berdagang mata uang asing atau forex
  • berdagang forex dengan options trading

Options Foreign Exchange (Options Forex)
PasarValas menawarkan berbagai macam pilihan dalam bertrading 4 macam kontrak trading :

1. Kontrak Dobel
2. Kontrak Expire
3. Kontrak Boundary
4. Kontrak Spreads
5. Kontrak Stop
6. Kontrak Tik
Klik link di bawah untuk mendaftar di BetOnMarket

” mce_src=”” alt=”" border=”" hspace=”" vspace=”" width=”" height=”" align=”" />


DESAIN PROSEDURAL REKAYASA PERANGKAT LUNAK

Februari 20, 2008

PENDAHULUAN

Desain prosedural terjadi setelah data, desain arsitektur, dan interface, dibangun.Dalam dunia yang ideal, spesifikasi prosedural diperlukan untuk menetapkan detail algoritma yang akan dinyatakan dalam suatu bahasa ibu seperti bahasa inggris. Akan tetapi, semua anggota organisasi pengembangan perangkat lunak menggunakan bahasa ibu (paling tidak secara teori), orang di luar domain perangkat lunak dapat lebih memahami spesifikasi tersebut dan tidak ada pelajaran baru yang Sayangnya ada satu masalah kecil, desain prosedural harus menentukan detail desain prosedural tanpa ada ambiguitas, dan tidak ada ambiguitas. Di dalam bahasa ibu bukan merupakan hal hal wajar. Dengan menggunakan suatu bahasa ibu, kita dapat menuliskan serangkaian langkah prosedural dalam begitu banyak cara yang berbeda. Kita kerap kali bersandar pada konteks untuk mendapatkan fakta penting. Kita sering menulis seolah-olah ada dialog dengan pembaca (sebenarnya tidak). Karena alasan tersebut dan hal lainnya, harus digunakan mode yang lebih terbatas untuk mempresentasikan detail prosedural.

Baca entri selengkapnya »


MENGAMANKAN JARINGAN NIRKABEL

Februari 19, 2008

PENDAHULUAN

Teknologi jaringan nirkabel sebenarnya terbentang luas mulai dari komunikasi suara sampai dengan jaringan data, yang mana membolehkan pengguna untuk membangun koneksi nirkabel pada suatu jarak tertentu. Ini termasuk teknologi infrared, frekuensi radio dan lain sebagainya. Peranti yang umumnya digunakan untuk jaringan nirkabel termasuk di dalamnya adalah komputer, komputer genggam, PDA, telepon seluler, tablet PC dan lain sebagainya. Teknologi nirkabel ini memiliki kegunaan yang sangat banyak. Contohnya, pengguna bergerak bisa menggunakan telepon seluler mereka untuk mengakses e-mail. Sementara itu para pelancong dengan laptopnya bisa terhubung ke internet ketika mereka sedang di bandara, kafe, kereta api dan tempat publik lainnya. Di rumah, pengguna dapat terhubung ke desktop mereka (melalui bluetooth) untuk melakukan sinkronisasi dengan PDA-nya.

Saat ini banyak orang yang mulai memasang jaringan komputer nirkabel di rumah mereka (wireless home network) yang mana bisa segera digunakan oleh mereka untuk terhubung ke internet. Contohnya si Agung, karyawan salah satu perusahaan TI di Surabaya telah berlangganan akses internet ADSL melalui Telkom Speedy. Agung membeli modem ADSL yang dilengkapi pula dengan fasilitas wireless atau Wi-Fi. Dia membeli model itu karena dia memiliki dua buah komputer di rumahnya, sebuah laptop dan desktop PC. Semuanya telah dilengkapi dengan Wi-Fi card dan dia menginginkan semuanya terhubung ke internet melalui access point yang dia buat sendiri. Selain itu Agung juga memiliki sebuah PDA yang mana terkadang dia perlu akses ke internet dari PDA nya ketika dia di rumah. Tepatlah jika ia membangun access point di rumahnya sendiri.


GANGGUAN-GANGGUAN DALAM JARINGAN NIRKABEL

Teknologi nirkabel memang bagus untuk menghubungkan antara daerah yang jauh. Namun, teknolgi ini mempunyai kelemahan, khususnya dalam hal security. Umumnya, gangguan yang sering dijumpai dalam teknologi WiFi antara lain :

1) Insertion Attacks, yang dapat menyerang jaringan dengan memasukan sesuatu tanpa ijin.

2) interception and monitoring Wireless traffic, berupa pengiriman pesan/data dengan cara menyiarkannya (broadcasting) ke dalam jaringan. Gangguan model ini umumnya dikenal dengan beragam istilah antara lain, Wireless Sniffer, Hijacking The Session, Broadcast Monitoring, ArpSpoof Monitoring and Hijacking, dan BaseStation Clone (Evil Twin).f

3) Misconfiguration, yang dapat disebabkan oleh ketidakpahaman pengguna, atau ketidaktersediaan blue-print jaringan. Bisa juga karena cacat fisik hardware.

4) Client to Client Attacks, dengan memanfaatkan fasilitas filesharing atau menggunakan service TCP/IP.

5) Denial of Service (DoS) berupa pengiriman file seperti virus yang dapat mencatat aktivitas user untuk mendapatkan data (Hybrid Threats).

6) nteferensi yang mengakibatkan jaringan tidak dapat digunakan. Hal ini karena WiFi mengunakan frekuensi 2,4 GHz yang tidak memerlukan lisensi dari pemerintah dan access point WiFi dapat dibeli dengan bebas. Wajar jika interferensi dimungkinkan karena sifat jaringan yang bebas ini.

Berbeda dengan WiFi yang menerapkan suatu standar tertentu, teknologi nirkabel yang diterapkan pada perusahaan seluler atau perusahaan komunikasi data bersifat proprietary dan menggunakan frekuensi yang memerlukan lisensi dari pemerintah. Ada 2 (dua) aspek yang diterapkan di teknologi nirkabel pada perusahaan seluler atau perusahaan komunikasi data dalam menerapkan layanan pengamanan,yaitu :

§ Confidentiality ( kerahasiaan) dan Integrity) (integritas)

Aspek kerahasiaan dan integritas, berarti data/informasi tidak dapat dan tidak boleh diketahui dan dimodifikasi oleh pihak yang tidak berwenang. Ini artinya jaringan harus bersifat aman dan hampir tidak memiliki peluang untuk dimasuki/disusupi. Untuk itu diperlukan pengamanan yang memadai pada jaringan. Layanan pengamanan yang biasa diterapkan pada teknologi nirkabel seperti pada perusahaan seluler atau perusahaan komunikasi data adalah umumnya dilakukan dalam dua bentuk. Pertama, encode dan scrambling data sehingga data tidak dapat disusupi oleh mereka yang tak berhak. Kedua, hanya perangkat milik penyedia komunikasi data yang ditempatkan di sisi pelanggan yang memungkinkan dapat mengakses jaringan.

§ Availability ketersediaan

Aspek kedua, ketersediaan atau availability. Ini berarti teknologi nirkabel haruslah dapat digunakan ketika dibutuhkan. Penyebab utama terjadinya gangguan pada aspek ketersediaan layanan adalah cuaca dan interferensi. Cuaca buruk umumnya sering menjadi kendala terselenggaranya layanan nirkabel. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan terhadap aspek ktersediaan layanan ini, teknologi nirkabel non WiFi harus memiliki kemampuan sebagai berikut:

  1. ATP (Auto Transmit Power Control) yang memungkinkan layanan kepada pelanggan tidak terganggu ketika hujan yang sangat deras sekalipun.
  2. Pengaturan kanal frekuensi dimana gangguan interferensi dapat diatasi dengan cepat.
  3. Fasilitas NMS (Network Monitoring System) agar seorang operator dapat memonitor secara berkala performansi jaringan yang digunakan oleh pelanggan. Fasilitas NMS hanya dimiliki oleh perusahaan komunikasi data.

Ketiga kemampuan ini dapat dimasukkan ke dalam Service Level Agreement (SLA), sehingga dapat menjadi pegangan pengguna. Sejatinya, pengamanan pada teknologi nirkabel tidak cukup hanya dibebankan kepada aspek teknologi semata. Perusahaan yang menyediakan layanan teknologi nirkabel harus memiliki kemampuan untuk memadukan teknologi, sumber daya manusia, dan prosedur di internal agar dapat meminimisasi gangguan keamanan di jaringan yang digunakan.

MENGAMANKAN JARINGAN NIRKABEL

Ada beberapa tips yang harus dilakukan agar koneksi internet dengan jaringan nirkabel aman, diantaranya adalah :.

1. Ganti Password Administrator default (bila perlu ganti pula usernamenya)

Jantung dari jaringan Wi-Fi di rumah Anda adalah access point atau router. Untuk melakukan set up dari peralatan access point ini, maka vendor dari access point device akan memberikan suatu interface yang berbasis web, dimana untuk masuk ke dalam interface ini maka Anda harus mengisikan username dan password. Sementara itu, pada beberapa kasus, peralatan access point tersebut di set oleh vendor dengan suatu username dan password tertentu yang mudah ditebak oleh pengguna. Untuk itu Anda harus mengganti password default dari access point Anda. Bahkan bila perlu Anda juga ubah username yang ada.

2. Aktifkan enkripsi

Semua peralatan Wi-Fi pasti mendukung beberapa bentuk dari keamanan data. Intinya enkripsi akan mengacak data yang dikirim pada jaringan nirkabel sehingga tidak mudah dibaca oleh pihak lain. Peralatan Wi-Fi saat ini sudah menyediakan pilihan teknologi security yang bisa Anda gunakan sesuai dengan kebutuhan. Pastikan semua peralatan dalam jaringan nirkabel Anda juga menggunakan setting security yang sama seperti yang digunakan pada access point.

3. Ganti SSID default

Access point atau router menggunakan suatu nama jaringan yang disebut dengan SSID. Vendor biasanya memberi nama produk access point mereka dengan suatu default SSID. Sebagai contoh, SSID yang dirilis oleh Linksys biasanya adalah “linksys”. Kenyataannya memang apabila seseorang mengetahui sebuah SSID maka ia belum tentu bisa membobol jaringan tersebut, tetapi paling tidak ini adalah suatu awal baginya. Di mata seorang hacker, apabila melihat suatu SSID yang masih default, maka itu indikasi bahwa access point tersebut tidak dikonfigurasi dengan baik dan ada kemungkinan untuk dibobol. Ganti SSID default Anda segera setelah Anda menset-up access point.

4. Aktifkan MAC Address filtering

Setiap peralatan Wi-Fi pastilah memiliki suatu identifikasi yang unik yang dinamakan “physical address” atau MAC address. Access point atau router akan mencatat setiap MAC address dari peranti yang terhubung kepadanya. Anda bisa set bahwa hanya peranti dengan MAC address tertentu saja yang boleh mengakses ke dalam jaringan nirkabel Anda. Misalnya PDA Anda memiliki MAC address tertentu, kemudian Anda masukkan MAC address PDA Anda ke dalam filter MAC address pada access point Anda. Jadi yang bisa terhubung ke jaringan sementara ini hanyalah dari PDA Anda. Tapi Anda juga tetap hati-hati, karena hacker bisa saja membuat MAC address tipuan untuk mengakali filtering ini.

5. Matikan broadcast dari SSID

Dalam jaringan Wi-Fi, maka access point atau router biasanya akan membroadcast SSID secara reguler. Fitur ini memang sengaja didesain bagi hotspot area yang mana klien Wi-Fi pada area tersebut bisa saja datang dan pergi dengan cepat. Dalam kondisi di rumah Anda yang mana SSID nya pasti sudah Anda ketahui sendiri, maka fitur ini tidak perlu diaktifkan karena bisa mengundang tetangga sebelah untuk mengetahui SSID Anda atau juga mencegah orang lain menumpang jaringan internet Anda dengan gratis. Anda bisa nonaktifkan fasilitas broadcast SSID ini demi keamanan jaringan Anda.

6. Berikan alamat IP statis kepada peranti Wi-Fi

Saat ini cenderung orang memanfaatkan DHCP untuk memberikan alamat IP secara otomatis kepada klien yang ingin terhubung ke jaringan nirkabel. Ini memang cara yang cepat dan mudah bagi jaringan Anda, tetapi ingat bahwa ini juga cara mudah bagi hacker untuk mendapatkan alamat IP yang valid pada jaringan nirkabel Anda. Anda bisa mematikan fitur DHCP pada acces point dan set suatu rentang alamat IP yang sudah fix dan set pula peranti Wi-Fi Anda yang ingin terkoneksi ke access point dengan rentang alamat-alamat IP yang fix tadi.

7. Pikirkan lokasi access point atau router yang aman

Sinyal Wi-Fi secara normal bisa menjangkau sampai keluar rumah Anda. Sinyal yang bocor sampai keluar rumah sangat berisiko tinggi untuk timbulnya eksplotasi terhadap jaringan nirkabel Anda. Anda harus meletakkan peralatan access point Anda pada daerah sekitar ruang tengah dari rumah Anda. Jangan sekali-kali meletakkan access point atau router di dekat jendela, karena akan semakin meningkatkan jangkauan sinyal Wi-Fi Anda ke luar rumah.

8. Matikan saja jaringan nirkabel jika sedang tidak digunakan

Aturan keamanan yang paling ampuh adalah dengan mematikan peralatan jaringan atau access point ketika sedang tidak digunakan. Misalnya saja, jangan sekali-kali meninggalkan rumah dengan Wi-Fi yang menyala, walaupun itu untuk keperluan download data. Access point yang menyala tanpa ada yang memantau sangat berisiko tinggi terhadap eksploitasi.


KESIMPULAN

Jaringan nirkabel merupakan teknologi terkini, namun kita perlu berhati-hati terhadap gangguan-gangguan yang mungkin timbul seperti insertion Attacks, interception and monitoring Wireless traffic, berupa pengiriman pesan/data dengan cara menyiarkannya (broadcasting) ke dalam jaringan. Gangguan model ini umumnya dikenal dengan beragam istilah antara lain, Wireless Sniffer, Hijacking The Session, Broadcast Monitoring, ArpSpoof Monitoring and Hijacking, dan BaseStation Clone (Evil Twin), Misconfiguration, yang dapat disebabkan oleh ketidakpahaman pengguna, atau ketidaktersediaan blue-print jaringan. Bisa juga karena cacat fisik hardware. Client to Client Attacks, dengan memanfaatkan fasilitas filesharing atau menggunakan service TCP/IP dan Denial of Service (DoS).Karenanya perlu melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi agar kita tidak mendapatkan gangguan di dalam menggunakan jaringan nirkabel.

SUMBER BACAAN

Ariesta Raharjo, Gangguan-gangguan dalam Jaringan Nirkabel, http://www3.lintasarta.net,

Ariesa Rahardjo ,8 Tips Keamanan Jaringan Nirkabel di Rumah Anda , http://www.sony-ak.com/” http://www.sony-ak.com,

Ariesa Rahardjo, Keamanan Jaringan untuk Pemula, http://www.sony-ak.com,

Andias T. Wira Alam, Memahami Internet Firewall, http://www.sony-ak.com


COMMUNITY ACCESS POINT (CAP) SEBAGAI SARANA MEMPERKECIL DEVIDE DIGITAL

Februari 19, 2008
PENDAHULUAN

Republik Indonesia adalah negara berkembang yang dulunya sempat disebut Calon macan Asia. Tetapi krisis multidimensi yang terjadi pada tahun 1998, bersamaan dengan krisis yang juga menimpa negara-negara lain di kawasan regional membuat Indonesia menjadi terpuruk. Meskipun saat ini Indonesia sudah mulai bangkit dari keterpurukannya, namun apabila dibandingkan dengan negara lain di kawasan regional, laju pertumbuhan Indonesia relatif lebih lambat. Dari indikator human development index (HDI) untuk tahun 2004 yang diterbitkan oleh UNDP, Indonesia menduduki peringkat 111 dari 177 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang masuk dalam HDI tahun 2004. Bahkan, apabila dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, posisi Indonesia masih di bawah negara-negara lainnya. Singapura misalnya, menempati urutan ke-25, sedangkan Brunei menempai urutan ke-33. Malaysia sendiri menempati urutan ke-59, sedangkan Thailand dan Filipina masing-masing menempati urutan ke-76 dan 83. Indonesia hanya menang dari Vietnam sebagai sebuah negara yang baru saja membangun, yang menempati urutan satu tingkat di bawah Indonesia yaitu 112. Ini menunjukkan kualitas manusia Indonesia yang masih di bawah negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Sebagai negara anggota PBB, Indonesia terikat dengan beberapa keputusan/konvensi PBB, yang selanjutnya diratifikasi oleh DPR-RI. Salah satu hasil konvensi adalah bertajuk “Millenium Development Goals” (MDG), di mana mencantumkan target bahwa seluruh anggota PBB yang berjumlah 191 negara akan mencapai target MDG pada tahun 2015. MDG berisi:

o Mengurangi kemiskinan dan kelaparan

o Target bahwa semua orang telah memperoleh pendidikan dasar

o Memajukan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan

o Mengurangi tingkat kematian bayi

o Meningkatkan kesehatan ibu hamil

o Mengatasi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit-penyakit lainnya

o Menjamin kelestarian lingkungan

o Membangun kemitraan global untuk pengembangan

Tren dunia sejak tahun 1994 adalah mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi (infokom) untuk mempercepat proses-proses maupun memperlancar aktivitas-aktivitas yang tadinya dilakukan secara konvensional, menjadi dapat dilakukan secara elektronis. Lebih jauh lagi, teknologi infokom berfungsi sebagai enabler dalam hampir setiap lini produksi maupun setiap aspek kehidupan manusia, meskipun penggunaannya dalam derajat yang berbeda-beda. Untuk kalangan dunia usaha, teknologi infokom akan meningkatkan efisiensi produksi dan membantu meningkatkan produktivitas usaha. Untuk kalangan pemerintahan, teknologi infokom akan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, meningkatkan transparansi, dan menunjang pemerintahan yang demokratis. Sedangkan untuk masyarakat luas, teknologi infokom dapat meningkatkan kemampuan masyarakat, mempermudah akses informasi, mempermudah menerima layanan publik dan pendidikan, serta pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan meningkatkan daya saing bangsa. Apabila dihubungkan dengan usaha Indonesia untuk mencapai MDG, maka teknologi infokom sesungguhnya dapat menjadi enabler bagi tercapainya MDG tersebut di atas. Dengan teknologi infokom, dapat dilaksanakan program-program pemberdayaan masyarakat dan upaya-upaya untuk meningkatkan pembelajaran masyarakat tanpa terbatas ruang dan waktu.

COMMUNITY ACCES POINT

 

 

Community Acces Point (CAP) adalah sebuah pusat ataupun titik, di mana masyarakat yang berada di pedesaan dapat melakukan komunikasi, serta mengakses informasi melalui sarana telekomunikasi dan informasi yang berada di satu tempat. Karakteristik khas dari CAP adalah adanya sebuah ruangan fisik yang mempunyai akses ke sarana teknologi informasi dan komunikasi. CAP sendiri berkembang di banyak negara dengan nama yang berlainan. Antara lain adalah: Community Access Program (CAP), Canada; Cabinas, Peru; Multi Purpose Community Telecentre (MPC T), Senegal; Mamelodi Community Information Services (MACIS), Afrika Selatan; Balai Informasi masyarakat (Mastel), Indonesia; dan Warung Informasi Teknologi (Warintek), Indonesia. Semua itu intinya sama, yaitu bagaimana memberikan akses teknologi informasi dan komunikasi ke masyarakat pedesaan yang jauh dari jaringan telekomunikasi.

CAP secara umum memberikan beberapa layanan seperti tertera di bawah ini:

  • Akses ke telepon dan faksmili
  • Akses ke e-mail
  • Akses ke internet
  • Layanan informasi lainnya
  • Layanan yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat
  • Pendidikan keahlian yang sejalan dengan perlengkapan yang ada di CAP

MODEL COMMUNITY ACCESS POINT

Di seluruh dunia, saat ini terdapat berbagai macam jenis CAP yang diadopsi oleh masing-masing negara, sesuai dengan tujuan pembentukan CAP maupun kebutuhan masyarakat/komunitasnya. Model bisnis yang dipakai oleh negara lain pun bermacam-macam. Ada yang melibatkan pemerintah dan donor, ada yang melibatkan LSM, dan ada juga yang dibangun oleh komunitas khusus. Dari semua itu, ada yang sukses dan ada juga yang gagal. Dalam konteks Indonesia, perlu dicermati lebih jauh, model bisnis seperti apakah yang cocok dan berkelanjutan? Tentunya, mencari model bisnis yang cocok harus mengingat kembali tujuan dari pembentukan CAP dan memerlukan beberapa pertimbangan yang akan dibahas dalam pembahasan berikutnya. Model bisnis dipahami sebagai sistem yang memungkinkan perusahaan atau organisasi untuk berkembang dan mendapatkan uang secara berkesinambungan (Keval Desai, ONSET Ventures). Ada beberapa hal yang membuat model bisnis penting, yaitu: a) karena ia memberikan bahasa yang umum, b) memungkinkan adanya analogi, c) bertindak sebagai peta jalan, d) memungkinkan fokus pada pertumbuhan berkelanjutan dan e) mengisolasi masalah, serta sebagai f) titik transisi. Untuk membuat model bisnis, ada empat komponen yang harus hadir. Ke empatnya adalah: a) pasar dan pelanggan, b) produk dan layanan, c) saluran distribusi dan d) financial engine.

TUJUAN COMMUNITY ACCESS POINT

 

 

  • Pengentasan Kemiskinan

Melalui CAP, diharapkan dapat diperoleh pengetahuan dan peluang untuk meningkatkan usaha, dapat diperoleh pengetahuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan, serta dapat diperoleh informasi bagaimana melakukan pengolahan bahan-bahan makanan yang lebih baik dan bergizi. Peluang untuk memperoleh informasi ini memberi dampak tidak langsung, yaitu bahwa secara bertahap akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin, sehingga tingkat kemiskinan masyarakat dapat berkurang.

Memperkecil Digital Divide

Dengan dibangunnya CAP di seluruh Indonesia, diharapkan secara perlahan kesenjangan informasi antara daerah kota dan pedesaan dapat diatasi, sehingga seluruh masyarakat dapat memperoleh informasi yang sama secara tepat waktu dan akurat. Dengan demikian, seluruh masyarakat Indonesia diharapkan mempunyai peluang untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang sama, mempunyai peluang untuk memperoleh informasi yang sama dalam rangka meningkatkan usahanya, dan mempunyai peluang yang sama untuk meningkatkan kualitas hidupnya tanpa terhalang oleh jarak dan waktu, maupun terhalang oleh pihak lain.

  • Masyarakat Berbasiskan Pengetahuan

Melalui CAP, peluang untuk memperoleh materi belajar dan informasi pendidikan untuk seluruh subyek/mata pelajaran terbuka luas. Dengan demikian, tidak ada batasan waktu, tempat, dan umur untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Informasi-informasi tentang pengetahuan tradisional yang dibutuhkan masyarakat Indonesia pun mulai tersedia melalui program Warintek Digital Library. Sedangkan ilmu pengetahuan dengan khazanah yang lebih luas, diharapkan dapat diperoleh melalui internet, sepanjang jaringan aksesnya memadai, dan kontennya tersedia melalui situs-situs web di dunia maya.

Oleh karena itu, diharapkan seluruh masyarakat tanpa batasan umur dapat memanfaatkan CAP untuk memperkaya khazanah pengetahuan dirinya dan membiasakan diri untuk terus belajar sepanjang hidupnya (lifelong learning). Dengan terbentuknya masyarakat yang berbasiskan pengetahuan (knowledge based society), maka diharapkan daya saing bangsa akan meningkat dibandingkan bangsa-bangsa lain di kawasan regional. Tolok ukur yang patut diperhatikan di sini adalah Human Development Index (HDI). Indonesia harus mempunyai target untuk meningkatkan HDI menjadi posisi 100 dalam lima tahun.

 

KOMUNITAS (PASAR/PELANGGAN)

 

Sesungguhnya, CAP ini dapat didirikan di beragam lingkungan, baik lingkungan yang majemuk maupun yang heterogen. Namun, biasanya CAP pada awalnya akan berdiri berdasarkan adanya kebutuhan dari kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan karakteristik. Beberapa kelompok masyarakat yang teridentifikasi dan mempunyai potensi untuk berkembang dengan adanya CAP antara lain adalah:

  • PETANI

Target dari komunitas petani adalah pelaku pertanian, perkebunan, dan peternakan sendiri.

  • NELAYAN

Target dari komunitas nelayan adalah nelayan itu sendiri.

  • WANITA

Target dari komunitas wanita terdiri dari:

§ Ibu rumah tangga

§ Wanita lajang/remaja

§ Wanita pekerja

§ Wanita pengusaha

  • PELAJAR & MAHASISWA, terdiri dari:

§ Peserta pendidikan formal

§ Bukan peserta pendidikan formal

KESIMPULAN

Sebagaimana telah disampaikan di atas, bahwa infrastruktur telekomunikasi belum menjangkau daerah-daerah pedesaan atau pedalaman, maka untuk menyediakan infrastruktur tersebut adalah sudah menjadi kewajiban pemerintah. Namun, dalam rangka pembangunan masyarakat berbasis pengetahuan, diperlukan fasilitas tambahan dari sekedar telepon dan usaha tambahan untuk memasyarakatkan budaya membaca dan menulis, serta untuk mengenalkan pentingnya arti informasi. Oleh karenanya, pemerintah seharusnya mengalokasikan dana khusus untuk pembangunan dan pengembangan CAP, di luar dana penyediaan infrastruktur telekomunikasi untuk pedesaan. Memang, hasil dari penggunaan dana ini tidak akan terlihat langsung (direct effect), namun akan terlihat dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan melalui ”Human Development Index”, ”Country Competitiveness Index”, dan lain-lain.

Pemerintah Membuat Kebijakan Infrastruktur untuk Memperkecil Digital Divide

Sesuai dengan keinginan untuk membangun masyarakat Indonesia yang berbasis pengetahuan, maka pemerintah harus berkomitmen untuk membuat kebijakan yang bertujuan untuk memperkecil jurang kesenjangan informasi digital (digital divide), antara lain melalui CAP. Kebijakan tersebut dapat berupa komitmen penyediaan infrastruktur telekomunikasi (termasuk penggunaan frekuensi untuk pendidikan dan masyarakat), dan penyediaan infrastruktur informasi/konten.

Pemerintah Sebagai Pemimpin atau Pembuat Kebijakan untuk Mengajak BUMN atau Sektor Swasta dalam Membuat Community Development Project CAP

Pemerintah sebagai pemimpin atau pembuat kebijakan maka diharapkan dapat mengajak BUMN atau sector swasta untuk membuat Community Developman Project Community Access Point, sehingga tujuan dari CAP akan segera tercapai.

SUMBER BACAAN

 

 

 

http://aptel.depkominfo.go.id, Panduan Model Bisnis Community Access Point

 


Usaha untuk mengatasi permasalahan rekayasa perangkat lunak

Februari 18, 2008

Masalah perangkat lunak (software engineering) biasanya dipilih berdasarkan 3 aspek antara lain sifat dari proyek dan aplikasi, metode dan alat bantu yang digunakan serta kontrol dan output yang dibutuhkan. Perekayasaan perangkat lunak berupa penggunaan metode pengembangan perangkat lunak berkualitas tinggi secara ekonomi dan handal. Dari usaha-usaha tersebut dihasilkan alternatif paradigma, alternatif metodologi dan perangkat bantu komputer.

1. Siklus Hidup

Pengesetan dan piranti teknik serta metode yang digunakan oleh para ahli software dalam proyek disebut Metodologi Proyek. Metodologi proyek diterapkan dalam konteks tahap-tahap pengembangan software (software live cycle) , yang disebut fase, yang merupakan tahapan yang harus dilalui oleh produk software dari konsep awal sampai tahap akhir. Model tahap-tahap tersebt merupakan enyajian dari tahap-tahap pengembangan software yang juga dapat berisikan alur informasi, saat penentuan keputusan, dan sebagainya.

Langkah-langkah dari model tahapan penyusunan dapat merupakan fase temoporal yang membentuk urutan dalam waktu atau fase logis yang menunjukkan tahap-tahap bukan membentuk urutan temporal. Sebagai contoh implementasi secara logis akan mendahului pengujian, namun bagian fase implementasi dan pengujian dapat terjadi secara serempak. Jadi moedl tahapan yang menggunakan fase logis dapat memiliki fase implementasi sebelum fase pengujian, sedangkan model yang menggunakan fase temporal mungkin fase-fase ini kan bertumpang tindih.

2. Model Spiral

Permodelan dalam suatu perangkat lunak merupakan suatu hal yang dilakukan di tahapan awal. Di dalam suatu rekayasa dalam perangkat lunak sebenarnya maih memungkinkan tanpa melakukan suatu permodelan. Hal ini tidak dapat lagi dilakukan dalam suatu industri perangkat lunak. Permodelan dalam perangkat lunak merupakan suatu yang harus ikerjakan di bagian awal dari rekayasa, dan permodelan ini akan mempengaruhi pekerjaan-pekerjaan dalam rekayasa perangkat lunak tersebut. dalam prakteknya, setiap langkah sering tumpang tindih dan sering memberi informasi satu ama lain.

Proses perangkat lunak tidak linier dan sederhana tapi mengandung urutan iterasi dari aktivitas pengembangan. Selama langkah terakhir, perangkat lunak telah digunakan. Kesalahan dan kelalaian dalam menentukan kebutuhan perangkat lunak original dapat diatasi.

Namun sayang, model yang banyak mengandung iterasi sehingga membuat kesulitan bagi pihak manajemen untuk memeriksa seluruh rencana dan laporan. Maka dari itu, seteleh sedikit iterasi, biasanya bagian yang telah dikembangkan akan dihentikan dan dilanjutkan dengan keinginan user. Mungkin juga sistem terstruktur secara jelek yang sebenarnya merupakan masalah desain akan dibiarkan karena terkalahkan oleh trik implementasi.

3. Pendekatan Waterfall

Model waterfall menawarkan cara pembuatan perangkat lunak secara lebih nyata. Langkah-langkah yang penting dalam model ini adalah :

  • Penentuan dan analisis spesifikasi
  • Desain sistem dan perangkat lunak
  • Implementasi dan ujicoba unit
  • Integrasi dan uji coba sistem
  • Operasi dan pemeliharaan

Masalah pendekatan waterfall adalah ketidakluwesan pembagian project ke dalam langkah yang nyata atau jelas. Sistem yang disampaikan kadang-kadang tidak dapat digunakan sesuai keinginan customer. Namun demikian model waterfall mencerminkan kepraktisan engineering. Konsekwensinya, model proses perangkat lunak yang bredasarkan pada pendekatan ini digunakan dalam pengembangan sistem perangkat lunak dan hardware yang luas.
4. Pendekatan Evolusioner

Pendekatan evolusioner ini berdasarkan pada ide pengembangan dan implementasi awal yang akan menghasilkan komentar pemakai sehingga dapat dilakukan perbaikan melalui banyak versi sampai sistem yang mencukupi dapat dikembangkan. Selain memiliki kegiatan-kegiatan terpisah model ini memberikan umpan balik dengan cepat dan serempak. Ada 2 tipe pada model ini yaitu :

a. Pemrogramaman evolusioner

    Tujuan proses adalah bekerja sama dengan cusomer untuk menghasilakan kebutuhan-kebutuhan dan menyampaikan sistem akhir kepada pemakai/ customer. Pengembangan dimulai dengan bagian-bagian sistem yang dimengerti. Sistem dikembangkan melalui penambahan features sesuai yang diusulkan oleh customer. 2.

    b. Pemodelan

    Pemrograman evolusioner penting saat sulit untuk membuat spesifikasi sistem secara rinci. Beberapa orang mungkin setuju bahwa semua sistem masuk dalam tipe ini. Namun, pemrograman evolusioner banayk digunakan dalam pengembangan sistem pakar (artifacial intelegence) yang berusaha untuk menyamai kemampuan manusia.

    Kita tidak mungkin membuat spesifikasi yang rinci untuk perangkat lunak yang menyamai manusia karena kita tidak mengerti bagaimana biasanya manusia menjalankan tugas-tugasnya. Pendekatan evolusioner biasanya lebih efektif daripada pendekatan waterfall untuk hal pengembangan perangkat lunak yang harus dengan segera dapat memenuhi kebutuhan customer. Namun, daris egi teknik dan manajemen, model ini mempunyai masalah mendasar yaitu :

    • proses tidak visibel
    • sistem biasanya kurang terstruktur
    • ketrampilan khusus jarang dimiliki

      Untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, kadang-kadang tujuan dari pengembangan evolusioner adalah mengembangkan contoh sistem. Contoh ini digunakan untuk mengerti dan memvalidasikan spesifikasi sistem. Disinilah pengembangan evolusioner merupakan bagian dari beberapa proses yang lebih luas (seperti model waterfall).

      Oleh karena masalah-masalah tersebut, sistem dengan skala besar biasanya tidak dikembangkan melalui cara ini. Pengembangan evolusioner lebih tepat untuk pengembangan yang relatif kecil. Masalah-masalah mengenai perubahan sistem yang ada dihindari dengan mengimplementasikan ulang sistem keseluruhan kapanpun perubahan yang signifikan diperlukan. Jika permodelan digunakan, tidak terlalu mahal. Pengembangan sistem yang memiliki masa hidup yang relatif singkat.

      5. Spiral Boehm

      Boehm (1988) mengusulkan sebuah model yang secara eksplisit menjelaskan bahwa resiko yang disadari mungkin membentuk dasar model umum. Model yang diusulkan oleh Boehm ini berbentuk spiral. Tak ada tahap yang ditetapkan dalam model ini. Manajemen harus memutuskan bagaimana membentuk proyek ke dalam tahap-tahap. Perusahaan biasanya bekerja dengan beberapa model umum dengan tambahan untuk proyek khusus atau ketika masalah-masalah ditemukan selama pembuatan proyek. Setiap loop dibagi dalam 4 sektor yaitu :

      • Pembuatan tujuan

      Tujuan, hambatan dalam proses ataupun produk serta resiko-resiko proyek yang ditentukan. Rencana rinci manajemen juga ditulis lengkap. Pembuatan strategi-strategi alternatif direncanakan sesuai dengan resiko yang ada.

      • Perkiraan dan pengurangan resiko

      Untuk setiap resiko yang telah diidentifikasi, akan dibuat analisis rincinya. Kemudian diambil langkah-langkah untuk mengurangi resiko. Contohnya jika ada resiko bahwa persayaratan-persyaratan tidak tepat maka sebuah model mungkin dapat dikembangkan.

      • Pengembangan dan validasi
      Setelah evaluasi resiko, jika resiko sebuah model pengembangan untuk sistem dipilih. Misalnya, jika resiko interface pengguna yang dominan maka model pengembangan yang tepat mungkin pengembangan evolusioner dengan menggunakan contoh (prototype). Jika resiko keselamatan yang diutamakan, model pengembangan sesuai adalah transformasi formal. Model waterfall mungkin tepat digunakan jika resiko yang diutamakan adalah integrasi sistem.
      • Perencanaan

      Jika diputuskan untuk melanjutkan pada loop spiral berikutnya, maka prosyek yang dibicarakan kembalai dan rencana perlu dibuat untuk tahap selanjutnya. Tidak perlu untuk menggunakan satu model tunggal pada setiap loop spiral bahkan dalam keseluruhan sistem perangkat lunak. Model spiral encompasses model lainnya. Pemodelan digunakan pada salah satu spiraluntuk memecahkan masalah kebutuhan.

      Pada implementasinya, model spiral banyak digunakan , tetapi biasanya dikombinasikan dengan model lain. Pemodelan waterfall yang sangat bagus dalam menentukan milestones dan pemodelan spiral, yang sangat bagus dengan menggunakan prototyping, merupakan kombinasi yang sering dipakai di dalam kontrak-kontrak untuk perangkat lunak dewasa ini.

      DAFTAR BACAAN

      Adri Kristianto, Rekayasa Perangkat Lunak (Konsep Dasar), Gava Media Yogyakarta, 2004

      Al Bahra bin Ladjamuddin, Rekayasa Perangkat Lunak, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2004

      Barbee Teasley Mynatt, Software Engineering with Student Project Guidance, Prentice Hall Int. 1990.


      Ikuti

      Get every new post delivered to your Inbox.